Apakah Jihad Terbesar Itu?

1 08 2011

“Kamu telah kembali (dari) sebaik-baik tempat kembali (medan perang), dan kamu telah kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang lebih besar, iaitu jihad seseorang hamba menentang nafsunya”

1. Periwayat-Periwayat Hadith:

– AI-Baihaqi
– AI-Khatib AI-Baghdadi

2. Status Hadith: LEMAH

3. Sebabnya:

a) RiwayatAI-Baihaqi:

Di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi iaitu Yahya bin Ya’la AI-Aslami AI-Kufi dan Laith bin Abi Sulaim.

Adapun Yahya binYa’la:

– Kata Imam Al-Bukhari: Ia seorang yang goncang hadithnya.
– Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang lemah hadithnya.
– Kata Imam Ibnu Hajar: Ia lemah.
– Kata Imam Ibnu Ma’in: Ia tidak memiliki sesuatu. (yang soheh untuk dijadikan pegangan).

Manakala Laith bin Abi Sulaim:

– Kata Imam Ahmad: Ia seorang yang goncang hadithnya.
– Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang lemah hadithnya.
– Kata Imam Abu Zur’ah: Ia seorang yang lemah hadithnya, tidak boleh dijadikan hujjah di sisi ahli ilmu dalam bidang hadith.
– Kata Imam An-Nasai: Ia lemah.
– Kata Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Hajar: Hafalannya bercampur-campur pada akhir umurnya.
– Kata Imam Ibnu Ma’in: Ia seorang yang mungkar hadithnya.
– Kata Imam AI-Hakim: Disepakati akan buruk hafalannya.

b) Riwayat AI-Khatib AI-Baghdadi:

– Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi bernama Yahya bin Abi AI-Ala’.
– Diyakini Yahya bin Abi AI-Ala’ ini adalah Yahya bin Ya’la yang disebut di atas (di dalam sanad Imam Al-Baihaqi) kerana Imam Ibnul Jauzi ada menyebutnya di dalam kitabnya Zammul Hawa dari jalan periwayatan AI-Khatib AI-Baghdadi ini.
– Setelah nyata ia adalah Yahya bin Ya’la, maka riwayat ini juga lemah.

4. Keterangan:

– Di sana terdapat satu lagi ucapan yang hampir sama dengan hadith lemah di atas, iaitu, maksudnya: Kita kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang lebih besar.
– Menurut Imam An-Nasai di dalam kitabnya AI-Kuna, ucapan tersebut adalah dari kata-kata Ibrahim bin Abi Ablah, seorang tabi’en yang berasal dari Syam, bukannya sabda Nabi SAW Demikian juga yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar.

5. Kesimpulan:

– Hadith lemah di atas dan ucapan Ibrahim bin Abi Ablah (bahkan disangka oleh sesetengah pihak sebagai hadith Nabi SAW, tapi sebenarnya bukan) telah dijadikan sandaran terutama oleh golongan tasawwuf bahwa jihad yang lebih besar dan utama ialah jihad memerangi hawa nafsu, bukannya jihad memerangi musuh-musuh Islam.
– Sedangkan menurut AI-Quran dan As-Sunnah, jihad memerangi musuh-musuh Islam adalah yang utama dan besar kelebihannya, dengan tidak menafikan perlunya suatu kesungguhan dalam mengendalikan hawa nafsu yang sifatnya sentiasa mengajak manusia ke arah kejahatan.

Wallahu ‘alam bishowab….

By: Maman Zinedine Ahmada


Aksi

Information

Kasih komentar ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: