Melirik Brebes Sebagai Lumbung Bawang Mereh

4 08 2011

Seperti diketahui hampir 65 persen lahan di Brebes digunakan untuk pertanian. Selebihnya digunakan untuk perikanan, perkebunan dan perhutanan. Sebagai salah satu daerah agraris, pada umumnya petani Brebes menggarap tanahmya dengan tanaman padi satu tahun sekali. Sedang sisa waktu lainnya digunakan untuk menanam bawang merah. Jika sistem pengairan memungknkan, ada juga petani yang menenam padi setahun dua kali. Di kalangan masyarakat Brebes dikenal dengan istilah ranbatan, sadonan serta lerengan. Untuk menyiasati kondisi diatas, bagi petani yang kreatif dapat juga menanam aneka sayuran secara tumpang sari.
Dalam kedaan musim kering, pera petani Brebes tidak kurang akal. Untuk mengatasi kekurangan air, mereka memanfaatkan cara pompanisasi untuk mengambil air dari dalam tanah. Meski cara ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, namun apa oleh buat. Yang penting tanaman bawang bisa tumbuh dengan baik.
Selanjutnya ada beberapa hal yang tampaknya relevan untuk kita kemukakan dengan Brebes yang dikenal dengan sebagai penghasil bawang merah terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu sumber “devisa” masyarakatnya.
Pertama, Tradisi menanam bawang merah bagi masyarakat Brebes memeng erat kaitanya dengan factor histories, geologis dan geografis dari wilayah Brebes itu sendiri. Dari sisi historis, sejak ratusan tahun yang lalu masyarakat Brebes sudah menanam bawang merah. Kenyataan ini telah menempatkan Brebes sebagai daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia.
Barangkali dari hal itu, tidak mengherankan bila sebagaian besar masyarakat Brebes sangat menguasai seluk beluk penanaman bawang merah. Termasuk dalam cuaca yang kurang memungkinkan untuk menenam bawang merah. Tidak aneh pula, bila ketika harga bawang merah melambung tinggi banyak diantara petani Brebes yang diminta petani dari daerah lain untuk mengajari teknik pemenanaman bawang merah.
Disisi lain, faktor geologis struktur tanah wilayah Brebes memeng memungkinkan untuk tanaman seperti bawang merah. Semenrata dari faktor geografis, posisi Brebes yang dilalui angina “kumbang” yang berasal dari wilayah pegunungan bagian selatan merupakan nilai tambah keberhasilan penanaman bawang merah. Apalagi angin tersebut berhembus hampir sepanjang tahun, kecuali pada musin lerengan. Mungkin dari faktor tersebut di atas telah menjadikan bawang merah asal Brebes memiliki ciri khas tersendiri. Singkatnya, bila digoreng terasa lebih harum baunya dan bila diiris lebih ‘pedas’ di mata.
Kedua, meski dikenal sebagai penghasil bawang merah terbesar sulit dipungkiri bahwa sejauh ini sebagaian besar perani bawang merah Brebes belum mampu mengendalikan harga jual yang kadang melambung tinggi dan dilain waktu justru melorot hingga harga terendah. Kalau dikaji lebih jauh, fluktuasi harga bawang merah tersebut sesungguhnya sebagai dampak ulah para tengkulak yang selama ini menguasai jalur distribusi perdagangan komoditas tersebut. Tidak jarang para tengkulak membohongi para petani dengan menyebutkan bahwa stok bawang merah di pasaran demikian banyak sehingga mereka tidak berminat membeli bawang merah dalam jumlah yang besar. Dalam kondisi seperti ini, petani bawang merah jelas sangat terpojok. Kalau bawangnya dibiarkan tidak dijual dalam jangka waktu lama, maka dikhawatirkan akan membusuk. Selain itu, karena bertani dengan modal yang terbatas, mereka berharap hasil panen bawang merah segera terjual untuk meneutupi kebutuhan. Akhirnya meskipun dengan harga jual yang murah, mereka terpaksa menjualnya kepada tengkulak.
Pada sisi yang lain, fluktuasi harga bawang merah juga disebabkan semakin banyaknya petani dari daerah lain yang juga ikut “menjiplak” budi daya bawang merah. Tidak jarang untuk menghasilkan bawang merah yang kurang lebih memiliki kualitas yang sama dengan bawang merah Brebes, pengusaha mengontrak para petani bawang dari Brebes untuk membuka lahan pertanian bawang merah di daerah lain. Mereka percaya bahwa petani bawang merah asal Brebes memeng memiliki kemampuan untuk itu. Dan terbukti, karenea dikelola dengan baik, bawang merah yang dihasilkan dari daerah lain pun memang cukup baik kualitasnya.
Dari uraian di atas, setidaknya dapat ditarik benang merah yang berkaiatan dengan seringnya terjadi fluktuasi bawang merah sebagai komoditi unggulan masyarakat Brebes. Pertama, ketergantungan masyarakat Brebes terhadap bawang tidaklah selalu menguntungkan. Karena ketika harga bawang merah jatuh, kondisi ekonomi masyarakatnya pun secara otomatis akan terpengaruh.
Kedua, selama ini sebagian masyarakat Brebes baru menguasai masalah penanamannya saja. Sedangkan masalah distribusi, pengolahan pasca panen serta inovasi-inovasi lainya termasuk menyangkut keseriusan maayarakat dan pemda untuk menjadikan bawang merah sebagai komuditas unggulan yang dioptimalkan belum banyak yang berfikir kearah tersebut.
Dalam hal ini mengacu pada berbagai permasalahan di atas, setidaknya terdapat tiga hal yang harus segera dibenahi berkaitan dengan keadaan petani bawang merah. Pertama, political will dari pemda dan masyaraknya untuk tetap menjaga eksistensi Brebes yang selama ini dikenal dengan Trede Mark kota bawang dengan mengoptimalkan potensi kompetitif dengan seperangkat regulasi yang medukung kebijakan tersebut.
Keua, sistem pemasaran yang selama ini cenderung masih tradisionalis dan merugikan petani hendaknya secara bertahap ke arah yang lebih menguntungkan petani dengan cara melakkan inivasi-inovasi untuk mendapatkan nilai plus dipasaran, semisal membrandingkan bawang merah khas brebes dan mengkasifikasikannya menurut jenis dan kualitasnya. Hal ini dimaksudkan untuk menembah daya tawar dipasaran. Ketiaga, hendaknya dilakukan pembinanaan SDM secara terarah dan terpadu.
Pada akhirrnya, semua faktor di atas tidak akan berhasil tanpa adanya keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib petani. Bagaimanapun keterbatasan pola pikir petani Brebes saat ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya. Apalagi selama ini Brebes memang unggul dalam komuditas tersebut dan dikenal sebagai daerah penghasil terbesar. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana upaya kita umtik membantu kehidupan para petani bawang merah tersebut agar benar-benar menikmati hasil keringatnya secara optimal. Semoga.

By: Fahmi Brajanala


Aksi

Information

2 responses

7 11 2011
Pak Tani

Mari bercocok tanam bawang merah.

9 11 2011
piq2001

yuk… hijaukan negeri ini… biar subur lagi & g banjir terus2an lagi… SAY NO TO GLOBAL WARMING

Kasih komentar ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: