Membingkai Kesalehan Sosial Perantau

4 08 2011

Sopo wonge sing ngrasa ndue pengeran,…….
.…… Mbok yao rajin-rajin ngrajut rasa saseduluran

Banyak adagium yang bisa menjadi spririt untuk bagaimana menumbuhkan kesalehan sosial yang memang sudah sepatutnya kita terapkan dalam interaksi kehidupan bermasyarakat. Manifes dari pada konsep kesalehan social (hablum minannas) adalah bagaimana disamping kita membangun tatanan kehidupan dengan saling berbagi dengan sesama juga diimbangi dengan jalinan ikatan emosiaonal yang dalam budaya kita sering dibahasakan dengan silaturohmi. Sudah sepatutnya spirit nilai silaturohmi – seperti salah satunya yang tersebut dalam hadits, barang siapa yang rajin menjalin silaturohmi akan dipanjangkan umur dan diberkah lancarkan rizkinya – bisa kita aktualisasikan dalam bentuk yang lebih faktual. Bukan hanya untuk tujuan yang berorientasi pada profitabilitas personal tetapi lebih dari itu, kemaslahatan umat juga harus difikirkan dalam jalinan silaturohmi sebagai manifes kesalehan social tadi.
Konsekuenasi adanya metamorfosis dari konsep kesalehan social – yang dalam hal ini dimanifestasikan lewat jalinan silaturohmi – ke arah yang lebih faktual adalah dengan bagaimana mengupayakan adanya suatu arah tersebut kemudian dijadikan sebagai suatu gerakan yang lebih konkrit menuju kemaslahatanya dalam kehidupan bersosial masyarakat.
Dalam konteks kehidupan masyarakat rantau sudah sepatutnya pengaplikasian hidup berbagi, hidup menghidupkan rasa dan hati untuk melihat sesama yang kemudian dibingkai dalam wadah silaturohmi harus diniscayakan. Sadar akan potensi dan posisi yang mempunyai peran strategis ini dicobalah upaya untuk mengkonsolidasikan adanya penyatuan langkah untuk bergerak baik dalam tataran wacana maupun sumbangsih yang lebih konkret sebagai wujud cinta bakti terhadap kemajuan pembangunan daerah. Bagaimanapun juga rasa primordialisme sangat penting untuk ditanamkan pada masyarakat rantau agar selalu ingat akan jati dirinya sebagai masyarakat yang mempunyai tanggung jawab terhadap tanah kelahiranya.
Terlepas dari banyaknya persepsi bagaimana sejatinya kita sebagai masyarakat rantau dalam memposisikan tanggung jawab dan kewajiban kita untuk tidak lupa terhadap asal mausul kita, lewat media silaturohmi yang coba digagas dan dicanangkan inilah diharapkan akan ditemukan kesamaan persepsi dalam menjawabnya. Oleh karenanya dukungan dan apresiasi yang berkekeluargaan sangat kita kedepankan untuk menatap Brebes sebagai suatu yang menarik diberdaya gunakan sebagai bentuk bhakti kita terhadap hidup dan kehidupan yang kita jalani.
Awal yang indah untuk meralisasikan misi kita sebagai makhluk social, lebih jauh untuk ikut andil dan berkontribisi terhadap masa depan bangunan dan pembangunan asal muasal kita (Brebes Tercinta) adalah dengan membingkai semua keberagaman untuk diseragamkan dalam kaca mata kemaslahatan. Untuk itulah adanya upaya mengkomunikasikan dan mengkonsolidasikan semua keberagaman elemen masyarakat Brebes yang merantau di Jakarta sudah selayaknya kita tata ulang, kita dukung dan kita realisasikan kearah yang lebih kompak dan konsekuen…. Semoga..

By: Fahmiy Brajanala


Aksi

Information

Kasih komentar ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: